AJISAKA
Karya klasik berbentuk puisi tembang macapat, dan berbahasa Jawa Baru.
Isi teks tentang cerita mitos yang dimulai dengan kedatangan Aji Saka dari Arab
( bumi Majeti )ke Tanah Jawa atau Medhang Kamulan. Diceritakan pula tentang
kematian Prabu Dewatacengkar oleh Aji Saka yang kemudian menggantikannya
sebagai raja di Medhang Kamulan dengan gelar Prabu Jaka. Cerita ini diakhiri
dengan peperangan antara para Adipati Brang Wetan (pesisir timur) melawan Prabu
Banjaransari di Kerajaan Galuh.Aji Saka dalam perjalanannya ke Medhang Kamulan
singgah di rumah seorang janda bernama Sengkeran. Ditempat inilah banyak orang
yang berguru kepada Aji Saka. Raja Medhang Kamulan, Prabu Dewatacengkar, senang
sekali melihat banyak orang ditempat tersebut kesukaannya memakan daging manusia.
Oleh karena itu orang-orang menjadi takut.Aji Saka menawarkan dirinya lewat
Patih Trenggana agar dihadapkan sebagai santapannya. Ia mengajukan persyaratan
meminta tanah seluas ikat kepala yang dimilikinya untuk dibentangkan di tanah
tersebut.
Raja Dewatacengkar menyanggupinya sehingga ikat kepala yang dibentangkan
tadi memenuhi wilayah Medhang Kamulan. Dewatacengkar terdesak dan akhirnya
sampai di pantai selatan hingga tercebur dalam samudera dan berubah wujud
menjadi buaya putih. Selanjutnya Aji Saka kembali ke Medhang Kamulan dan
menggantikan kedudukannya sebagai raja dengan gelar prabu Jaka atau Prabu Anom
Aji Saka. Sepeninggal Dewatacengkar kerajaan Medhang Kamulan menjadi aman
tenteram dan damai kekuasaan Aji Saka. Ia dapat membuat manusia dengan tanah
dan menciptakan aksara Jawa yang disebut Dhentawyanjana. Diceritakan pula
mengenai naga Nginglung yang mengaku dirinya sebagai putra prabu Jaka. Ia
disuruh untuk membunuh buaya putih di samudera yang merupakan penjelmaan
Dewatacengkar. Naga tersebut dapat membunuh buaya putih sehingga diakui sebagai
putranya dan diberi nama Tunggul Wulung.
Raden Daniswara di Panungkulan bermaksud ingin merebut Kerajaan Medhang.
Ia disarankan oleh Hyang Sendhula agar meminta bantuan kepada ratu Kidul yang
bernama Ratu Angin-Angin. Ia kemudian dapat menjadi raja di tanah Jawa dengan
sebutan Raja Daniswara atau Srimapunggung. Ki Jugulmudha dijadikan patih dengan
gelar Adipati Jugulmudha. Langkah selanjutnya adalah ingin menaklukan pesisir
mencanegara. Setelah selesai tugasnya ia kembali ke Panungkulan dan selanjutnya
berniat menaklukan Medhang. Akhirnya Aji Saka moksa bersama dengan kerajaannya
sedangkan Medhang dibawah kekuasaan Srimapunggung. Setelah Srimapunggung moksa
kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Sri Kandhihuwan. Setelah Sri
Kandhihuwan moksa kemudian digantikan oleh prabu Kelapagadhing. Selanjutnya
kekuasaan secara berturut-turut digantikan oleh : (1) Prabu Andhong, (2) Sri
Andhongwilis, (3) Prabu Banakeling, (4) Sri Banagaluh, (5) Sri Awulangit, (6)
Ratu Tunggul, (7) Selaraja, (8) Mundhingwangi, (9) Mundhigsari, (10)
Jajalsengara, (11) Gilingwesi, (12) Sri Prawatasari, (13) Wanasantun, (14)
Sanasewu, (15) Raja Tanduran, (16) Rama Jayarata, (17) Raja Ketangga, (18) Raja
Umbulsantuin, (19) Raja Padhangling, (20) Ratu Prambanan, (21) Resi Getayu,
(22) Lembu Amiluhur, (23) Raden Laleyan, dan (24) Raden Banjaransari). Pusat
kerajaan di Medhang Pangremesan atau Jenggala.
Pada saat pemerintahan Raden Banjaransari, ia mendapatkan wangsit dari
dewa Sang Hyang Narada agar meninggalkan kerajaan untuk pergi ke arah barat
yang akhirnya sampai di Gua Terusan untuk bertapa. Ditempat inilah ia dapat
bertemu dengan kakeknya, Sang Hyang Sindula, yang akhirnya dapat menjadi raja
di Kerajaan Galuh. Disebutkan pula mengenai peperangan antara para Adipati
Brang Wetan melawan Prabu Banjarsari di Kerajaan Galuh.
Cerita Ajisaka tersebut diatas ada yang mengartikan perlambang atau
bermakna sebagai berikut :
1. Ajisaka
Aji = Raja ( pegangan raja )
Saka = Pilar
2. Majeti
Ma = Diterima ( keterima )
Jet = Grenjet ( bijaksana )
Ti = Pangesti ( doa khusuk )
Artinya : Doa orang yang bijak, yang melakukan dengan khusuk akan
diterima.
3. Medang Kamolan
Kamolan = Mula = tempat asal muasal kehidupan
Beberapa resensi tentang Ajisaka terdapat pada serat Jatiswara dan Serat
Centhini yang memuat sebuah episode mengenai nama Ajisaka ( Raja Jawa Pertama )
pada abad ke. 17.
Ngasah paluning bangsa
Isih tungkul padhadene
Ngalung anduk bebasane
Oglak aglik gegondhele
Maling alok maling
Osoring ketara
Sapa wani arumangsa?
KELAHIRAN HA-NA-CA-RA-KA
Secara garis besar, ada dua konsepsi tentang kelahiran ha-na-ca-ra-ka.
Dua konsepsi itu masing-masing mempunyai dasar pandang yang berbeda. Konsepsi
yang pertama berdasarkan pandang pada pemikiran tradisional, dari cerita mulut
ke mulut sehingga disebut konsepsi secara tradisional. Konsepsi yang kedua
berdasar pandang pada pemikiran ilmiah sehingga disebut konsepsi secara ilmiah.
Konsepsi secara tradisional.
Konsepsi secara tradisional mendasarkan pada anggapan bahwa kelahiran
ha-na-ca-ra-ka berkaitan erat dengan legenda Aji Saka. Legenda itu tersebar
dari mulut ke mulut yang kemudian didokumentasikan secara tertulis dalam bentuk
cerita. Cerita itu ada yang masih berbentuk manuskrip dan ada yang sudah
dicetak. Cerita yang masih berbentuk manuskrip, misalnya Serat Momana, Serat
Aji Saka, Babad Aji Saka dan Tahun Saka lan Aksara Jawa. Cerita yang sudah
dicetak misalnya Kutipan Serat Aji Saka dalam Punika Pepetikan saking Serat
Djawi ingkang Tanpa Sekar ( Kats 1939 ) Lajang Hanatjaraka ( Dharmabrata 1949
dan Manikmaya ( Panambangan 1981 )
Dalam manuskrip Serat Aji Saka ( Anonim ) dan kutipan Serat Aji Saka (
Kats 1939 ) misalnya diceritakan bahwa Sembada dan Dora ditinggalkan di Pulau
Majeti oleh Aji Saka untuk menjaga keris pusaka dan sejumlah perhiasan. Mereka
dipesan agar tidak menyerahkan barang-barang itu kepada orang lain, kecuali Aji
Saka sendiri yang mengambilnya. Aji Saka tiba di Medangkamulan, lalu bertahta
di negeri itu. Kemudian negari itu termasyhur sampai dimana-mana. Kabar
kemasyhuran Medangkamulan terdengar oleh Dora sehingga tanpa sepengatahuan
Sembada ia pergi ke Medangkamulan. Di hadapan Aji Saka, Dora melaporkan bahwa
Sembada tidak mau ikut, Dora lalu dititahkan untuk menjemput Sembada. Jika
Sembada tidak mau, keris dan perhiasan yang ditinggalkan agar dibawa ke
Medangkamulan. Namun Sembada bersikukuh menolak ajakan Dora dan memperhatankan
barang-barang yang diamanatkan Aji Saka.
Akibatnya, terjadilah perkelahian antara keduanya, oleh karena seimbang
kesaktiannya meraka mati bersama. Ketika mendapatkan kematian Sembada dan Dora
dari Duga dan Prayoga yang diutus ke Majeti, Aji Saka menyadari atas
kekhilafannya. Sehubungan dengan itu, ia menciptakan sastra dua puluh yang
dalam Manikmaya, Serat Aji Saka dan Serat Momana disebut sastra sarimbangan.
Sastra Sarimbangan itu terdiri atas empat warga yang masing-masing mencakupi
lima sastra, yakni :
1. Ha-na-ca-ra-ka 2. Da-ta-sa-wa-la
3. Pa-dha-ja-ya-nya 4. Ma-ga-ba-tha-nga
Sastra Sarimbangan itu, antara lain terdapat dalam manuskrip Serat Aji
Saka, pupuh VII- Dhandhanggula bait 26 dan 27 sebagai berikut :
Dora goroh ture werdineki Dora bohong ucapannya yakin
Sembada temen tuhu perentah Sembada jujur patuh perintah
Sun kabranang nepsu ture Ku emosi marah ucapannya
Cidra si Dora iku Ingkar si Dora itu
Nulya Prabu Jaka angganggit Lalu Prabu Jaka Menganggit
Anggit pinurwa warna Anggit dibuat macam
Sastra kalih puluh Sastra dua puluh
Kinarya warga lelima Dibuat warga lelima
Wit Ha-na-ca-ra-ka sak warganeki Dari Ha-na-ca-ra-ka itu sewarganya
Pindho Da-ta-sa-wala Dua Da-ta-sa-wala
Yeku sawarga ping tiganeki Yaitu sewarga ketiganya
Pa-dha-ja-ya-nya ku suwarganya Pa-dha-ja-ya-nya sewargane
Ma-ga-ba-tha-nga ping pate Ma-ga-ba-tha-nga keempatnya
Iku sawarganipun itulah sewarganya
Anglelima sawarganeki Lima-lima satu warganya
Ran sastra sarimbangan Nama sastra sarimbangan
Iku milanipun Itulah sebabnya
Awit ana sastra Jawa Mulai ada hufur Jawa
Wit sinungan sandhangan sawiji-wiji Mulai diberi harakat satu per satu
Weneh-weneh ungelnya Macam-macam lafalnya
Teks diatas mirip teks yang terdapat dalam Manikmaya jilid II
(Panambangan 1981 : 385) kemudian untuk memberikan kesan yang menarik lagi bagi
anak-anak yang sedang belajar aksara ha-na-ca-ra-ka, dalam Lajang Hanatkaraka
jilid I dan II ( Dharmabrata, 1948:10-11 : 1949:65-66 ) dihiasi dengan gambar
kisah Dora dan Sembada. Hiasan yang menggambarkan kisah kedua tokoh itu
menandai lahirnya ha-na-ca-ra-ka.
Tidak dapat dipungkiri bahwa legenda Aji Saka hingga beberapa generasi
mengilhami dan bahkan mengakar dalam alam pikiran masyarakat Jawa. Dikatakan
oleh Suryadi ( 1995 : 74-75 ) bahwa mitologi Aji Saka masih mengisi alam
pikiran abstraksi generasi muda etnik Jawa yang kini berusia tiga puluh tahun
keatas. Fakta pemikiran tersebut menjadi bagian dari kerangka refleksi ketika
mereka menjawab perihal asal-usul huruf Jawa yang berjumlah dua puluh.
Selain Aji Saka sebagai tokoh fiktif, nama kerajaannya yakni Medangkulan
masih merupakan misteri karena secara historik sulit dibuktikan.
Ketidakterikatan itu sering menimbulkan praduga dan persepsi yang
bermacam-macam. Misalnya praduga yang muncul dari Daldjoeni ( 1984 : 147-148 )
yang kemudian diacu oleh Suryadi ( 1995 : 79 ) bahwa kerajaan Medangkamulan
berlokasi di Blora, sezaman dengan kerajaan Prabu Baka di ( sebelah selatan )
Prambanan, yakni sekitar abad IX. Berdasarkan praduga itu, aksara Jawa ( ha-na-ca-ra-ka
) diciptakan pada sekitar abad tersebut.
Praduga Daldjoeni tentang lokasi Medangkamulan memang sesuai dengan
keterangan dalam sebuah teks lontar ( Brandes, 1889a : 382-383 ) bahwa
Medangkamulan terletak di sebelah timur Demak, seperti berikut :
Mangka wonten ratu saking bumi tulen, arane Prabu Kacihawas. Punika
wiwitaning ratu tulen mangka jumeneng ing lurah Medangkamulan, sawetaning
Demak, sakiduling warung.
Demikianlah ada raja dari tanah tulen, namanya Prabu Kacihawas. Itulah
permulaan raja tulen ketika bertahta di lembah Medangkamulan, sebelah timur
Demak sebelah selatan warung.
Akan tetapi , penanda tahun kelahiran ha-na-ca-ra-ka diatas berbeda
dengan yang terdapat dalam Serat Momana. Dalam Serat Momana disebutkan bahwa
ha-na-ca-ra-ka diciptakan oleh Aji Saka yang bergelar Prabu Girimurti pada
tahun ( saka ) 1003 ( Subalidata 1994 : 3 ) atau tahun 1081 Masehi. Tahun 1003
itu dekat dengan tahun bertahtanya Aji Saka di Medangkamulan, yakni tahun 1002
yang disebutkan dalam The History of Java jilid II ( Raffles 1982 : 80 ) pada
halaman yang sama dalam The History of Java itu disebutkan pula bahwa Prabu
Baka bertahta di Brambanan antara tahun 900 dan 902, yakni seratus tahun
sebelum Aji saka bertahta.
Sementara itu, dalam Manikmaya ( salinan Panambangan, 1981 : 295 )
disebutkan bahwa Aji Saka – dengan sebutan Abu Saka mengembara ke tanah Arab.
Di negeri itu ia bersahabat dengan Nabi Muhammad ( yang hidup pada akhir abad
VI – pertengahan abad VII ). Setelah pergi ke pulau Jawa, dengan sebutan Aji Saka
akbibat berselisih paham dengan Nabi Muhammad ( Graff 1989 : 9 ) ia menciptakan
aksara ha-na-ca-ra-ka. Penciptaan aksara itu diperkirakan pada sekitar abad VII
( sesuai dengan masa kehidupan Nabi Muhammad ) karena di dalam teks tidak
disebutkan secara eksplisit.
Warsito ( dalam Ciptoprawiro, 1991 : 46 ) dalam telaah Serat Sastra
Gendhing berpendanpat bahwa syair ha-na-ca-ra-ka diciptakan oleh Jnanbhadra
atau Semar. Dengan demkian, saat kelahiran ha-na-ca-ra-ka sulit ditentukan
karena Semar merupakan tokoh fiktif dalam pewayangan.
Pendapat lain dikemukan oleh Hadi Soetrisno ( 1941 ). Dalam bukunya yang
berjudul Serat Sastra Hendra Prawata dikemukan bahwa aksara Jawa diciptakan
oleh Sang Hyang Nur Cahya yang bertahta di negeri Dewani, wilayah jajahan Arab yang
juga menguasai tanah Jawa. Sang Hyang Nur Cahya adalah putra Sang Hyang Sita
atau Kanjeng Nabi Sis ( Hadi Soetrisno, 1941 : 6 ). Disamping aksara Jawa, Sang
Hyang Nur Cahya juga menciptakan aksara Latin, Arab, Cina dan aksara-aksara
yang lain. Seluruh aksara itu disebut Sastra Hendra Prawata ( Hadi Soetrisno,
1941 : 3 – 6 )
Di kemukakan pula bahwa berdasarkan bentuknya, aksara Jawa merupakan
tiruan dari aksara Arab, mula-mula aksara itu berupa goresan-goresan yang
mendekati bentuk persegi atau lonjong, lalu makin lama makin berkembang hingga
terbentuklah aksara yang ada sekarang ( Hadi Soetrisno 1941 : 10 ). Lebih
lanjut dijelaskan bahwa Aji Saka yang dianggap sebagai pencipta aksara Jawa itu
sebenarnya bukan penciptanya, melainkan sebagai pembangun dan penyempurna
aksara tersebut sehingga terciptalah bentuk aksara dan susunan atau carakan (
ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya ) seperti sekarang ini ( Hadi Soetrisno, 1941 : 7
). Terciptanya bentuk aksara dan carakan itu melibatkan kedua abdinya, Dora dan
Sembada yang menemui ajalnya secara tragis.
Selian yang telah diuraikan di atas, ada dugaan bahwa kisah tragis Dora
dan Sembada dalam legenda Aji Saka merupakan simbol perang saudara untuk
memperebutkan tahta Majapahit. Perebutan ia mengakibatkan hancurnya kedua belah
pihak, menjadi bangkai dengan ungkapan ma-ga-ba-tha-nga. Tentu saja kisah
simbolik yang melahirkan aksara ha-na-ca-ra-ka itu muncul setelah hancurnya
kerajaan Majapahit, antara abad XVI dan XVII ( Atmodjo, 1994 : 26 )
Dugaan lain adalah bahwa peristiwa tragis yang menimpa Dora dan Sembada
merupakan simbol gerakan milenarianisme, yakni gerakan yang mengharapkan
datangnya pembebasan atau ratu adil, dengan ungkapan ha-na-ca-ra-ka ( Atmojo,
1994 : 26 ). Namun kapan datangnya pembebasan dan siapa yang dimaksud dengan
ratu adil, apakah Raden Patah yang berhasil naik tahta setelah Majapahit runtuh
atau Sutawijaya yang mampu menyelamatkan negeri ( Pajang ) dari rongrongan Arya
Penangsang ataukah tokoh lain, masih merupakan tanda tanya yang sulit untuk
memperoleh jawaban secara ilmiah atau nalar.
Praduga-praduga di atas mencerminkan keragaman pendapat, keragaman itu
sulit dapat timbul dari persepsi yang berbeda-beda sehingga sulit untuk
menentukan persamaan waktu atas kelahiran ha-na-ca-ra-ka. Kesulitan itu dapat
disebabkan oleh sifat legenda yang fiktif sehingga memungkinkan terjadinya
perbedaan antara sumber yang satu dan sumber yang lain, sesuai dengan kehendak
pengarang atau penulis masing-masing. Perbedaan praduga pertama ( Daldjoeni )
dengan praduga kedua ( dalam Serat Momana ) dan praduga ketiga ( dalam The
History of Java ) misalnya terletakpada selisih waktu dua abad, sedangkan
praduga kedua dengan praduga ketiga hanya mempunyai selisih satu tahun.
Perbedaaan ketiga praduga tersebut akan lebih beragam jika menyertakan
perkiraan hidup Aji Saka dalam Manikmaya, pendapat Warsito dan Hadi Soetrisno
serta kisah-kisah simbolik di atas. Selain itu masih terbuka kemungkinan yang
dapat menimbulkan perbedaan yang berasal dari teks-teks lain yang belum sempat
diungkapkan di sini, termasuk misteri pencipta aksara tersebut.
Konsepsi secara Ilmiah
Kelahiran pada perkembangan aksara Jawa erat hubungannya dengan
kelahiran dan perkembangan bahasa Jawa. Secara alami, mula-mula bahasa Jawa
lahir sebagai alat komunikasi lisan pemakainya. Bahasa Jawa yang dilisankan
itu, seperti bahasa ragam lisan pada umumnya, terikat oleh waktu dan tempat (
lihat Molen, 1985 : 3 ) untuk melepaskan diri dari keterikatannya, sesuai
dengan pola pikir pemakainya dan sejalan dengan tantangan zaman akibat pengaruh
lingkungan serta perkembangan ilmu dan teknologi, sarana yang nyata dan kekal,
berupa aksara diciptakan. Aksara yang dipakai etnik Jawa muncul pertama kali
setelah orang-orang India datang ke pulau Jawa. Diperkirakan bahwa sebelum itu
etnik Jawa belum mempunyai aksara ( Poerbatjaraka, 1952 : vii ) sehingga masih
berlaku tradisi kelisanan. Dengan munculnya aksara, mulailah tradisi
keberaksaraan untuk menciptakan bahasa ragam tulis, meskipun tradisi kelisanan
tetap berlangsung.
Hasil teknologi baru yang berupa tulisan memang memainkan peranan
yangamat penting dalam sejarah manusia, dalam kehidupan sehari-hari di bidang
ilmu pengetahuan, politik dan sebagainya. Ada perbedaan mendasar antara
peradaban yang tanpa tulisan dan peradaban yang mempunyai tulisan ( Molen, 1985
: 3 ) peradaban yang mempunyai tulisan setidaknya mempunyai kelebihan setingkat
lebih maju daridapa peradaban tanpa tulisan.
Dalam sejarah peradaban etnik Jawa, atas dasar data arkeologis, tulisan
tertua yang ditemukan dalam bentuk prasasti dengan menggunakan aksara Pallawa
menunjukkan penanda waktu sebelum tahun 700 Masehi ( Casparis, 1975 : 29 ) jauh
sesudah bahasa Jawa yang tertua dugunakan secara lisan. Setelah ditemukan
beberapa prasasti yang lain, secara berangsur-angsur dilakukan studi
paleografi. Dari beberapa prasasti yang dijadikan bahan studi, diperoleh hasil
deskripsi yang menggembirakan ( lihat Molen 1985 : 4 ). Namun hingga kini masih
sedikit jumlah karya tulis yang membicarakan paleografi Jawa. Karya tulis
tentang paleografi Jawa baru dimulai pada awal abad XIX, seperti yang dilakukan
oleh Raffles ( 1871 ) Stuart ( 1863 ) dan Keyzer ( 1863 ). Hanya sayang bahwa
contoh aksara yang ditampilkan menurut Stuart ( 1864 : 169 – 173 ) lihat Molen,
1985 : 4 ) bukan jiplakan yang asli, melainkan aksara Jawa baru yang dituliskan
dengan bentuk dan gaya aksara Jawa kuna, contohnya : dibawah ini dikutipkan
dari The History of Java Jilid I, karya Raffles ( 1982 : 370 )
Ada juga Ajaran filsafat hidup berdasarkan aksara Jawa yang sebagai
berikut :
Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada ” utusan ” yakni utusan hidup, berupa nafas
yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang
mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga
unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan )
Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data ”
saatnya ( dipanggil ) ” tidak boleh sawala ” mengelak ” manusia ( dengan segala
atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak
Tuhan
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan
yang diberi hidup ( makhluk ). Maksudnya padha ” sama ” atau sesuai, jumbuh,
cocok ” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan
keutamaan. Jaya itu ” menang, unggul ” sungguh-sungguh dan bukan
menang-menangan ” sekedar menang ” atau menang tidak sportif.
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang
dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah
pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk
menanggulanginya.
Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka Paku Buwana IX
Filsafat ha-na-ca-ka-ra yang diungkapan Paku Buwana IX dikutip oleh
Yasadipura sebagai bahan sarasehan yang diselenggarakan Balai Kajian Sejarah
dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada tanggal, 13 Juli 1992. Judul makalah yang
dibawakan Yasadipura adalah ” Basa Jawi Hing Tembe Wingking Sarta Haksara Jawi
kang Mawa Tuntunan Panggalih Dalem Hingkang Sinuhun Paku Buwana IX Hing Karaton
Surakarta Hadiningrat “. Dalam makalah itu dikemukakan oleh Yasadipura ( 1992 :
9 – 10 ) bahwa Paku Buwana IX memberikan ajaran ( filsafat hidup ) berdasarkan
aksara ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya, yang dimulai dengan tembang kinanthi,
sebagai berikut.
Nora kurang wulang wuruk tak kurang piwulang dan ajaran
Tumrape wong tanah Jawi bagi orang tanah Jawa
Laku-lakune ngagesang perilaku dalam kehidupan
Lamun gelem anglakoni jika mau menjalaninya
Tegese aksara Jawa maknanya aksara Jawa
Iku guru kang sejati itu guru yang sejati
Ha Na Ca Ra Ka
MAKNA HURUF
Ha
Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
Na
Nur candra,gaib candra,warsitaning candara-pengharapan manusia hanya selalu ke
sinar Illahi
Ca
Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi-satu arah dan tujuan pada Yang Maha
Tunggal
Ra
Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
Ka
Karsaningsun memayuhayuning bawana – hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam
Da
Dumadining dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya
Ta
Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – mendasar ,totalitas,satu visi,
ketelitian dalam memandang hidup
Sa
Sifat ingsun handulu sifatullah- membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
Wa
Wujud hana tan kena kinira – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya
bisa tanpa batas
La
Lir handaya paseban jati – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi
Pa
Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah
Dha
Dhuwur wekasane endek wiwitane – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
Ja
Jumbuhing kawula lan Gusti -selalu berusaha menyatu -memahami kehendak Nya
Ya
Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah /kodrat Illahi
Nya
Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – memahami kodrat kehidupan
Ma
Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin – mantap dalam menyembah Ilahi
Ga
Guru sejati sing muruki – belajar pada guru nurani
Ba
Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam
Tha
Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai – tumbuh dari niatan
Nga
Ngracut busananing manungso – melepaskan egoisme pribadi -manusia
KELAHIRAN HA-NA-CA-RA-KA
Secara garis besar, ada dua konsepsi tentang kelahiran ha-na-ca-ra-ka.
Dua konsepsi itu masing-masing mempunyai dasar pandang yang berbeda. Konsepsi
yang pertama berdasarkan pandang pada pemikiran tradisional, dari cerita mulut
ke mulut sehingga disebut konsepsi secara tradisional. Konsepsi yang kedua
berdasar pandang pada pemikiran ilmiah sehingga disebut konsepsi secara ilmiah.
Konsepsi secara tradisional.
Konsepsi secara tradisional mendasarkan pada anggapan bahwa kelahiran
ha-na-ca-ra-ka berkaitan erat dengan legenda Aji Saka. Legenda itu tersebar
dari mulut ke mulut yang kemudian didokumentasikan secara tertulis dalam bentuk
cerita. Cerita itu ada yang masih berbentuk manuskrip dan ada yang sudah
dicetak. Cerita yang masih berbentuk manuskrip, misalnya Serat Momana, Serat
Aji Saka, Babad Aji Saka dan Tahun Saka lan Aksara Jawa. Cerita yang sudah
dicetak misalnya Kutipan Serat Aji Saka dalam Punika Pepetikan saking Serat
Djawi ingkang Tanpa Sekar ( Kats 1939 ) Lajang Hanatjaraka ( Dharmabrata 1949
dan Manikmaya ( Panambangan 1981 )
Dalam manuskrip Serat Aji Saka ( Anonim ) dan kutipan Serat Aji Saka (
Kats 1939 ) misalnya diceritakan bahwa Sembada dan Dora ditinggalkan di Pulau
Majeti oleh Aji Saka untuk menjaga keris pusaka dan sejumlah perhiasan. Mereka
dipesan agar tidak menyerahkan barang-barang itu kepada orang lain, kecuali Aji
Saka sendiri yang mengambilnya. Aji Saka tiba di Medangkamulan, lalu bertahta
di negeri itu. Kemudian negari itu termasyhur sampai dimana-mana. Kabar
kemasyhuran Medangkamulan terdengar oleh Dora sehingga tanpa sepengatahuan
Sembada ia pergi ke Medangkamulan. Di hadapan Aji Saka, Dora melaporkan bahwa
Sembada tidak mau ikut, Dora lalu dititahkan untuk menjemput Sembada. Jika
Sembada tidak mau, keris dan perhiasan yang ditinggalkan agar dibawa ke
Medangkamulan. Namun Sembada bersikukuh menolak ajakan Dora dan memperhatankan
barang-barang yang diamanatkan Aji Saka.
Akibatnya, terjadilah perkelahian antara keduanya, oleh karena seimbang
kesaktiannya meraka mati bersama. Ketika mendapatkan kematian Sembada dan Dora
dari Duga dan Prayoga yang diutus ke Majeti, Aji Saka menyadari atas
kekhilafannya. Sehubungan dengan itu, ia menciptakan sastra dua puluh yang
dalam Manikmaya, Serat Aji Saka dan Serat Momana disebut sastra sarimbangan.
Sastra Sarimbangan itu terdiri atas empat warga yang masing-masing mencakupi
lima sastra, yakni :
1. Ha-na-ca-ra-ka
2. Da-ta-sa-wa-la
3. Pa-dha-ja-ya-nya
4. Ma-ga-ba-tha-nga
Sastra Sarimbangan itu, antara lain terdapat dalam manuskrip Serat Aji
Saka, pupuh VII- Dhandhanggula bait 26 dan 27 sebagai berikut :
Dora goroh ture werdineki
(Dora bohong ucapannya yakin)
Sembada temen tuhu perentah
(Sembada jujur patuh perintah)
Sun kabranang nepsu ture
(Ku emosi marah ucapannya)
Cidra si Dora iku
(Ingkar si Dora itu)
Nulya Prabu Jaka angganggit
(Lalu Prabu Jaka Menganggit)
Anggit pinurwa warna
(Anggit dibuat macam)
Sastra kalih puluh
(Sastra dua puluh)
Kinarya warga lelima
(Dibuat warga lelima)
Wit Ha-na-ca-ra-ka sak warganeki
(Dari Ha-na-ca-ra-ka itu sewarganya)
Pindho Da-ta-sa-wala
(Dua Da-ta-sa-wala)
Yeku sawarga ping tiganeki
(Yaitu sewarga ketiganya)
Pa-dha-ja-ya-nya ku suwarganya
(Pa-dha-ja-ya-nya sewargane)
Ma-ga-ba-tha-nga ping pate
(Ma-ga-ba-tha-nga keempatnya)
Iku sawarganipun
(itulah sewarganya)
Anglelima sawarganeki
(Lima-lima satu warganya)
Ran sastra sarimbangan
(Nama sastra sarimbangan)
Iku milanipun
(Itulah sebabnya)
Awit ana sastra Jawa
(Mulai ada huruf Jawa)
Wit sinungan sandhangan sawiji-wiji
(Mulai diberi harakat satu per satu)
Weneh-weneh ungelnya
(Macam-macam lafalnya)
Teks diatas mirip teks yang terdapat dalam Manikmaya jilid II
(Panambangan 1981 : 385) kemudian untuk memberikan kesan yang menarik lagi bagi
anak-anak yang sedang belajar aksara ha-na-ca-ra-ka, dalam Lajang Hanatkaraka
jilid I dan II ( Dharmabrata, 1948:10-11 : 1949:65-66 ) dihiasi dengan gambar
kisah Dora dan Sembada. Hiasan yang menggambarkan kisah kedua tokoh itu
menandai lahirnya ha-na-ca-ra-ka.
Tidak dapat dipungkiri bahwa legenda Aji Saka hingga beberapa generasi
mengilhami dan bahkan mengakar dalam alam pikiran masyarakat Jawa. Dikatakan
oleh Suryadi ( 1995 : 74-75 ) bahwa mitologi Aji Saka masih mengisi alam
pikiran abstraksi generasi muda etnik Jawa yang kini berusia tiga puluh tahun
keatas. Fakta pemikiran tersebut menjadi bagian dari kerangka refleksi ketika
mereka menjawab perihal asal-usul huruf Jawa yang berjumlah dua puluh.
Selain Aji Saka sebagai tokoh fiktif, nama kerajaannya yakni Medangkulan
masih merupakan misteri karena secara historik sulit dibuktikan.
Ketidakterikatan itu sering menimbulkan praduga dan persepsi yang
bermacam-macam. Misalnya praduga yang muncul dari Daldjoeni ( 1984 : 147-148 )
yang kemudian diacu oleh Suryadi ( 1995 : 79 ) bahwa kerajaan Medangkamulan
berlokasi di Blora, sezaman dengan kerajaan Prabu Baka di ( sebelah selatan )
Prambanan, yakni sekitar abad IX. Berdasarkan praduga itu, aksara Jawa (
ha-na-ca-ra-ka ) diciptakan pada sekitar abad tersebut.
Praduga Daldjoeni tentang lokasi Medangkamulan memang sesuai dengan
keterangan dalam sebuah teks lontar ( Brandes, 1889a : 382-383 ) bahwa
Medangkamulan terletak di sebelah timur Demak, seperti berikut :
Mangka wonten ratu saking bumi tulen, arane Prabu Kacihawas. Punika
wiwitaning ratu tulen mangka jumeneng ing lurah Medangkamulan, sawetaning
Demak, sakiduling warung.
Demikianlah ada raja dari tanah tulen, namanya Prabu Kacihawas. Itulah
permulaan raja tulen ketika bertahta di lembah Medangkamulan, sebelah timur
Demak sebelah selatan warung.
Akan tetapi , penanda tahun kelahiran ha-na-ca-ra-ka diatas berbeda
dengan yang terdapat dalam Serat Momana. Dalam Serat Momana disebutkan bahwa
ha-na-ca-ra-ka diciptakan oleh Aji Saka yang bergelar Prabu Girimurti pada
tahun ( saka ) 1003 ( Subalidata 1994 : 3 ) atau tahun 1081 Masehi. Tahun 1003
itu dekat dengan tahun bertahtanya Aji Saka di Medangkamulan, yakni tahun 1002
yang disebutkan dalam The History of Java jilid II ( Raffles 1982 : 80 ) pada
halaman yang sama dalam The History of Java itu disebutkan pula bahwa Prabu
Baka bertahta di Brambanan antara tahun 900 dan 902, yakni seratus tahun
sebelum Aji saka bertahta.
Sementara itu, dalam Manikmaya ( salinan Panambangan, 1981 : 295 )
disebutkan bahwa Aji Saka – dengan sebutan Abu Saka mengembara ke tanah Arab.
Di negeri itu ia bersahabat dengan Nabi Muhammad ( yang hidup pada akhir abad
VI – pertengahan abad VII ). Setelah pergi ke pulau Jawa, dengan sebutan Aji
Saka akbibat berselisih paham dengan Nabi Muhammad ( Graff 1989 : 9 ) ia
menciptakan aksara ha-na-ca-ra-ka. Penciptaan aksara itu diperkirakan pada
sekitar abad VII ( sesuai dengan masa kehidupan Nabi Muhammad ) karena di dalam
teks tidak disebutkan secara eksplisit.
Warsito ( dalam Ciptoprawiro, 1991 : 46 ) dalam telaah Serat Sastra
Gendhing berpendanpat bahwa syair ha-na-ca-ra-ka diciptakan oleh Jnanbhadra
atau Semar. Dengan demkian, saat kelahiran ha-na-ca-ra-ka sulit ditentukan
karena Semar merupakan tokoh fiktif dalam pewayangan.
Pendapat lain dikemukan oleh Hadi Soetrisno ( 1941 ). Dalam bukunya yang
berjudul Serat Sastra Hendra Prawata dikemukan bahwa aksara Jawa diciptakan
oleh Sang Hyang Nur Cahya yang bertahta di negeri Dewani, wilayah jajahan Arab
yang juga menguasai tanah Jawa. Sang Hyang Nur Cahya adalah putra Sang Hyang
Sita atau Kanjeng Nabi Sis ( Hadi Soetrisno, 1941 : 6 ). Disamping aksara Jawa,
Sang Hyang Nur Cahya juga menciptakan aksara Latin, Arab, Cina dan
aksara-aksara yang lain. Seluruh aksara itu disebut Sastra Hendra Prawata (
Hadi Soetrisno, 1941 : 3 – 6 )
Di kemukakan pula bahwa berdasarkan bentuknya, aksara Jawa merupakan
tiruan dari aksara Arab, mula-mula aksara itu berupa goresan-goresan yang
mendekati bentuk persegi atau lonjong, lalu makin lama makin berkembang hingga
terbentuklah aksara yang ada sekarang ( Hadi Soetrisno 1941 : 10 ). Lebih
lanjut dijelaskan bahwa Aji Saka yang dianggap sebagai pencipta aksara Jawa itu
sebenarnya bukan penciptanya, melainkan sebagai pembangun dan penyempurna
aksara tersebut sehingga terciptalah bentuk aksara dan susunan atau carakan (
ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya ) seperti sekarang ini ( Hadi Soetrisno, 1941 : 7
). Terciptanya bentuk aksara dan carakan itu melibatkan kedua abdinya, Dora dan
Sembada yang menemui ajalnya secara tragis.
Selian yang telah diuraikan di atas, ada dugaan bahwa kisah tragis Dora
dan Sembada dalam legenda Aji Saka merupakan simbol perang saudara untuk
memperebutkan tahta Majapahit. Perebutan ia mengakibatkan hancurnya kedua belah
pihak, menjadi bangkai dengan ungkapan ma-ga-ba-tha-nga. Tentu saja kisah
simbolik yang melahirkan aksara ha-na-ca-ra-ka itu muncul setelah hancurnya
kerajaan Majapahit, antara abad XVI dan XVII ( Atmodjo, 1994 : 26 )
Dugaan lain adalah bahwa peristiwa tragis yang menimpa Dora dan Sembada
merupakan simbol gerakan milenarianisme, yakni gerakan yang mengharapkan
datangnya pembebasan atau ratu adil, dengan ungkapan ha-na-ca-ra-ka ( Atmojo,
1994 : 26 ). Namun kapan datangnya pembebasan dan siapa yang dimaksud dengan
ratu adil, apakah Raden Patah yang berhasil naik tahta setelah Majapahit runtuh
atau Sutawijaya yang mampu menyelamatkan negeri ( Pajang ) dari rongrongan Arya
Penangsang ataukah tokoh lain, masih merupakan tanda tanya yang sulit untuk
memperoleh jawaban secara ilmiah atau nalar.
Praduga-praduga di atas mencerminkan keragaman pendapat, keragaman itu
sulit dapat timbul dari persepsi yang berbeda-beda sehingga sulit untuk
menentukan persamaan waktu atas kelahiran ha-na-ca-ra-ka. Kesulitan itu dapat
disebabkan oleh sifat legenda yang fiktif sehingga memungkinkan terjadinya
perbedaan antara sumber yang satu dan sumber yang lain, sesuai dengan kehendak
pengarang atau penulis masing-masing. Perbedaan praduga pertama ( Daldjoeni )
dengan praduga kedua ( dalam Serat Momana ) dan praduga ketiga ( dalam The
History of Java ) misalnya terletakpada selisih waktu dua abad, sedangkan
praduga kedua dengan praduga ketiga hanya mempunyai selisih satu tahun.
Perbedaaan ketiga praduga tersebut akan lebih beragam jika menyertakan
perkiraan hidup Aji Saka dalam Manikmaya, pendapat Warsito dan Hadi Soetrisno
serta kisah-kisah simbolik di atas. Selain itu masih terbuka kemungkinan yang
dapat menimbulkan perbedaan yang berasal dari teks-teks lain yang belum sempat
diungkapkan di sini, termasuk misteri pencipta aksara tersebut.
Konsepsi secara Ilmiah
Kelahiran pada perkembangan aksara Jawa erat hubungannya dengan
kelahiran dan perkembangan bahasa Jawa. Secara alami, mula-mula bahasa Jawa
lahir sebagai alat komunikasi lisan pemakainya. Bahasa Jawa yang dilisankan
itu, seperti bahasa ragam lisan pada umumnya, terikat oleh waktu dan tempat (
lihat Molen, 1985 : 3 ) untuk melepaskan diri dari keterikatannya, sesuai
dengan pola pikir pemakainya dan sejalan dengan tantangan zaman akibat pengaruh
lingkungan serta perkembangan ilmu dan teknologi, sarana yang nyata dan kekal,
berupa aksara diciptakan. Aksara yang dipakai etnik Jawa muncul pertama kali
setelah orang-orang India datang ke pulau Jawa. Diperkirakan bahwa sebelum itu
etnik Jawa belum mempunyai aksara ( Poerbatjaraka, 1952 : vii ) sehingga masih
berlaku tradisi kelisanan. Dengan munculnya aksara, mulailah tradisi
keberaksaraan untuk menciptakan bahasa ragam tulis, meskipun tradisi kelisanan
tetap berlangsung.
Hasil teknologi baru yang berupa tulisan memang memainkan peranan
yangamat penting dalam sejarah manusia, dalam kehidupan sehari-hari di bidang
ilmu pengetahuan, politik dan sebagainya. Ada perbedaan mendasar antara
peradaban yang tanpa tulisan dan peradaban yang mempunyai tulisan ( Molen, 1985
: 3 ) peradaban yang mempunyai tulisan setidaknya mempunyai kelebihan setingkat
lebih maju daridapa peradaban tanpa tulisan.
Dalam sejarah peradaban etnik Jawa, atas dasar data arkeologis, tulisan
tertua yang ditemukan dalam bentuk prasasti dengan menggunakan aksara Pallawa
menunjukkan penanda waktu sebelum tahun 700 Masehi ( Casparis, 1975 : 29 ) jauh
sesudah bahasa Jawa yang tertua dugunakan secara lisan. Setelah ditemukan
beberapa prasasti yang lain, secara berangsur-angsur dilakukan studi
paleografi. Dari beberapa prasasti yang dijadikan bahan studi, diperoleh hasil
deskripsi yang menggembirakan ( lihat Molen 1985 : 4 ). Namun hingga kini masih
sedikit jumlah karya tulis yang membicarakan paleografi Jawa. Karya tulis
tentang paleografi Jawa baru dimulai pada awal abad XIX, seperti yang dilakukan
oleh Raffles ( 1871 ) Stuart ( 1863 ) dan Keyzer ( 1863 ). Hanya sayang bahwa
contoh aksara yang ditampilkan menurut Stuart ( 1864 : 169 – 173 ) lihat Molen,
1985 : 4 ) bukan jiplakan yang asli, melainkan aksara Jawa baru yang dituliskan
dengan bentuk dan gaya aksara Jawa kuna, contohnya : dibawah ini dikutipkan
dari The History of Java Jilid I, karya Raffles ( 1982 : 370 )
Ada juga Ajaran filsafat hidup berdasarkan aksara Jawa yang sebagai
berikut :
Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada ” utusan ” yakni utusan hidup, berupa nafas
yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang
mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga
unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan )
Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data ”
saatnya ( dipanggil ) ” tidak boleh sawala ” mengelak ” manusia ( dengan segala
atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak
Tuhan
Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan
yang diberi hidup ( makhluk ). Maksdunya padha ” sama ” atau sesuai, jumbuh,
cocok ” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan
keutamaan. Jaya itu ” menang, unggul ” sungguh-sungguh dan bukan
menang-menangan ” sekedar menang ” atau menang tidak sportif.
Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang
dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah
pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk
menanggulanginya.