Sabtu, 24 November 2012


SINOPSIS HARIWANGSA

Di Negeri Dwarawati Prabu Kresna yang telah beranjak dewasa dan berkeinginan untuk mencari istri namun tidak ada satupun berkenan dihati. Kresna yang merupakan titisan Wisnu sangat merindukan titisan Dewi Sri yang tidak diketahui dimana dan siapa namanya. Untuk menentramkan hatinya yang sedang kasmaran, maka berjalan-jalanlah dia ke taman di belakang istana. Ketika di taman tersebut Kresna mendapat kunjungan batara Narada. Batara Narada mengatakan bahwa  calon istrinya, seseorang yang merupakan titisan Dewi Sri, telah turun ke dunia di negeri Kundina. Titisan Dewi Sri tersebut bernama Dewi Rukmini dan merupakan putri prabu Bismaka. Akhirnya Prabu Kresna merasa girang karena apa yang  selama ini ada dalam mimpinya  sebentar lagi menjadi kenyataan. Dia memikirkan cara yang paling baik untuk mendapat Dewi Rukmini. Terbersit dalam benaknya untuk datang menghadap ke Negeri Kundina dan menyampaikan lamaran kepada Prabu Bismaka. Namun diurungkan karena takut kalau ditolak. Kalau dengan jalan perang juga tidak berkenan dihatinya.
Akhirnya Prabu Kresna memutuskan membuat surat kepada prabu bismaka untuk meminang Dewi Rukmini dan mengutus pengasuhnya yang bernama Priambada. Sesampainya di puri Bismaka, Priambada minta tolong kepada Kesari yang merupakan dayang kesayangan Sang Dewi. Kesari menghadap Dewi Rukmini dan menyampaikan bunga cempaka dan cincin yang bermata mutu manikam titipan dari Prabu Kresna. Kesari lupa menyampaikan surat cinta dari Kresna akhirnya surat itu diletakkan di bawah cermin tempat sang dewi berhias. Surat yang berisi segala bujuk rayu dari Kresna membuat hati sang Dewi menjadi gundah gulana dan gelisah sepanjang hari. Wajah Kresna seperti terbayang-bayang di pelupuk mata. Di lain tempat diceritakan Hyang Bhagawan Narada turun ke kerajaan Kundina. Beliau memberi kabar kepada Raja Jarasanda bahwa Kresna mempunyai niat akan menculik Dewi Rukmini. Raja Jarasanda diperintahkan menyampaikan kabar ini kepada Raja Bismaka. Akhirnya Prabu Jarasanda menyampaikan hal itu dan menghasut prabu Bismaka agar menikahkan sang Dewi dengan Prabu Cedi yang brrnama prabu Cedya. Prabu Bismaka setuju dengan perjodohan itu. Setelah perundingan selesai Prabu Jarasanda memberitahu Prabu Cedi akan perjodohannya dengan Dewi Rukmini. Raja Cedi kaget dan girang bukan kepalang bagaikan kejatuhan bulan karena dulu lamarannya ditolak oleh sang Dewi akhirnya akan bersanding pula dengan sang Dewi. Pesta pernikahan disiapkan dengan meriah dan para tamu dari negeri tetangga dan para raja telah hadir. Namun Dewi Rukmini bersedih hati karena tidak setuju dengan perjodohannya. Hampir saja dia bunuh diri. Akan tetapi dicegah oleh dayangnya dan diingatkan tentang surat dari Kresna yang belum dibalas. Akhirnya dewi Rukmini membalas surat Prabu Kresna dan berniat untuk melarikan diri bersama Kresna. Sehari sebelum hari pernikahannya Dewi Rukmini melarikan diri dengan prabu Kresna atau yang sering disebut Sang Hyang Hari. Seisi puri menjadi gempar. Raja Jarasanda murka, akhirnya dia menghasut prabu bismaka guna membuat siasat untuk memerangi Kresna. Semua raja-raja diajak bersekutu termasuk Korawa. Dia juga minta pertolongan kepada Para Pandawa dan mengutus Sang Citrasena. Dengan berat hati Raja Yudhistira menyanggupi untuk membantu walaupun ditentang mati-matian oleh Bimasena. Setelah  utusan Jarasanda pergi datanglah utusan Prabu Kresna sang Uddawa yang
menyampaikan kepada Raja Yudhistira agar tidak ikut berperang karena Prabu Kresna tidak pernah takut oleh musuh siapapun dan tidak akan mengampuni siapapun. Prabu Yudhistira sangat bingung ia merasa menyesal karena tidak bisa menuruti nasehat Kresna yang merupakan sahabat setia dan yang membantu Yudhistira menjadi raja. Dengan berat hati ia menyampaikan akan tetap ke medan laga karena sudah terikat janji dengan Prabu Jarasanda. Sang Udawa merasa sedih dengan jawaban sang Yudhistira dengan berat hati dia melaporkannya kepada Prabu Kresna. Pada akhirnya perang tak dapat dielakkan lagi, tempat perang tanding berubah menjadi lautan darah. Raja-raja sekutu Jarasanda semua gugur, bahkan Jarasanda sendiripun gugur. Begitu juga Sang Kurupati, Prabu Bismaka, Sang Bagadata, Sang Karna, Prabu Cedi, Sang Nakula, Sadewa, Sang Bima gugur pula. Karena melihat adik-adiknya tewas Sang Yudhistira pun ikut berperang. Namun Kresna mengeluarkan senjata yang sangat sakti sehingga Yudistira pingsan. Melihat kakaknya pingsan Arjuna membalas dengan mengeluarkan berbagai macam senjata sakti. Begitu pula dengan Kresna. Perang senjata, perang ilmu tiada henti. Akhirnya pada saat kresna hampir kalah, keduanya berubah bertangan empat, menjadi wisnu murti. Untuk memisahkan mereka Batara Wisnu turun dari surga diiringi oleh para Dewata-Dewati dan Para Resi di langit. Pada saat itu Yudhistira sudah siuman dan menyembah serta memohon kepada Dewa Wisnu agar keadaan berubah seperti sediakala dan menghidupkan kembali yang gugur dalam perang. Dewa Wisnu akhirnya mengembalikan keadaan semula semua yang mati  dihidupkan kembali  dan bahkan mereka memiliki sikap welas asih menjadi lebih baik perselisihan pun terselesaikan dengan baik.
 
Diakhir cerita semua hidup kembali serta memiliki sikap welas asih dan mereka bersama-sama menghadiri pernikahan Sang Prabu Kresna dengan Dewi Rukmini di Puri Dwarawati.

Rindun_Duduls

Template by:

Free Blog Templates