SINOPSIS
HARIWANGSA
Di Negeri Dwarawati Prabu Kresna yang
telah beranjak dewasa dan berkeinginan untuk mencari istri namun tidak ada
satupun berkenan dihati. Kresna yang merupakan titisan Wisnu sangat merindukan
titisan Dewi Sri yang tidak diketahui dimana dan siapa namanya. Untuk menentramkan
hatinya yang sedang kasmaran, maka berjalan-jalanlah dia ke taman di belakang
istana. Ketika di taman tersebut Kresna mendapat kunjungan batara Narada.
Batara Narada mengatakan bahwa calon istrinya, seseorang yang merupakan
titisan Dewi Sri, telah turun ke dunia di negeri Kundina. Titisan Dewi
Sri tersebut bernama Dewi Rukmini dan merupakan putri prabu Bismaka.
Akhirnya Prabu Kresna merasa girang karena apa yang selama ini ada dalam
mimpinya sebentar lagi menjadi kenyataan. Dia memikirkan cara yang paling
baik untuk mendapat Dewi Rukmini. Terbersit dalam benaknya untuk datang
menghadap ke Negeri Kundina dan menyampaikan lamaran kepada Prabu Bismaka.
Namun diurungkan karena takut kalau ditolak. Kalau dengan jalan perang juga
tidak berkenan dihatinya.
Akhirnya Prabu Kresna memutuskan membuat
surat kepada prabu bismaka untuk meminang Dewi Rukmini dan mengutus pengasuhnya
yang bernama Priambada. Sesampainya di puri Bismaka, Priambada minta tolong
kepada Kesari yang merupakan dayang kesayangan Sang Dewi. Kesari menghadap Dewi
Rukmini dan menyampaikan bunga cempaka dan cincin yang bermata mutu manikam titipan
dari Prabu Kresna. Kesari lupa menyampaikan surat cinta dari Kresna akhirnya
surat itu diletakkan di bawah cermin tempat sang dewi berhias. Surat yang
berisi segala bujuk rayu dari Kresna membuat hati sang Dewi menjadi gundah
gulana dan gelisah sepanjang hari. Wajah Kresna seperti terbayang-bayang
di pelupuk mata. Di lain tempat diceritakan Hyang Bhagawan Narada turun ke
kerajaan Kundina. Beliau memberi kabar kepada Raja Jarasanda bahwa Kresna
mempunyai niat akan menculik Dewi Rukmini. Raja Jarasanda diperintahkan
menyampaikan kabar ini kepada Raja Bismaka. Akhirnya Prabu Jarasanda menyampaikan
hal itu dan menghasut prabu Bismaka agar menikahkan sang Dewi dengan Prabu Cedi
yang brrnama prabu Cedya. Prabu Bismaka setuju dengan perjodohan itu. Setelah
perundingan selesai Prabu Jarasanda memberitahu Prabu Cedi akan perjodohannya dengan
Dewi Rukmini. Raja Cedi kaget dan girang bukan kepalang bagaikan kejatuhan
bulan karena dulu lamarannya ditolak oleh sang Dewi akhirnya akan
bersanding pula dengan sang Dewi. Pesta pernikahan disiapkan dengan meriah dan
para tamu dari negeri tetangga dan para raja telah hadir. Namun Dewi Rukmini
bersedih hati karena tidak setuju dengan perjodohannya. Hampir saja dia bunuh
diri. Akan tetapi dicegah oleh dayangnya dan diingatkan tentang surat dari
Kresna yang belum dibalas. Akhirnya dewi Rukmini membalas surat Prabu Kresna
dan berniat untuk melarikan diri bersama Kresna. Sehari sebelum hari pernikahannya
Dewi Rukmini melarikan diri dengan prabu Kresna atau yang sering disebut Sang
Hyang Hari. Seisi puri menjadi gempar. Raja Jarasanda murka, akhirnya dia
menghasut prabu bismaka guna membuat siasat untuk memerangi Kresna. Semua
raja-raja diajak bersekutu termasuk Korawa. Dia juga minta pertolongan kepada
Para Pandawa dan mengutus Sang Citrasena. Dengan berat hati Raja Yudhistira
menyanggupi untuk membantu walaupun ditentang mati-matian oleh Bimasena. Setelah
utusan Jarasanda pergi datanglah utusan Prabu Kresna sang Uddawa yang
menyampaikan
kepada Raja Yudhistira agar tidak ikut berperang karena Prabu Kresna tidak pernah
takut oleh musuh siapapun dan tidak akan mengampuni siapapun. Prabu
Yudhistira sangat bingung ia merasa menyesal karena tidak bisa menuruti nasehat
Kresna yang merupakan sahabat setia dan yang membantu Yudhistira menjadi raja.
Dengan berat hati ia menyampaikan akan tetap ke medan laga karena sudah terikat
janji dengan Prabu Jarasanda. Sang Udawa merasa sedih dengan jawaban sang Yudhistira
dengan berat hati dia melaporkannya kepada Prabu Kresna. Pada akhirnya perang
tak dapat dielakkan lagi, tempat perang tanding berubah menjadi lautan
darah. Raja-raja sekutu Jarasanda semua gugur, bahkan Jarasanda sendiripun
gugur. Begitu juga Sang Kurupati, Prabu Bismaka, Sang Bagadata, Sang Karna,
Prabu Cedi, Sang Nakula, Sadewa, Sang Bima gugur pula. Karena melihat
adik-adiknya tewas Sang Yudhistira pun ikut berperang. Namun Kresna mengeluarkan
senjata yang sangat sakti sehingga Yudistira pingsan. Melihat kakaknya pingsan
Arjuna membalas dengan mengeluarkan berbagai macam senjata sakti. Begitu pula
dengan Kresna. Perang senjata, perang ilmu tiada henti. Akhirnya pada saat
kresna hampir kalah, keduanya berubah bertangan empat, menjadi wisnu murti.
Untuk memisahkan mereka Batara Wisnu turun dari surga diiringi oleh para
Dewata-Dewati dan Para Resi di langit. Pada saat itu Yudhistira sudah siuman
dan menyembah serta memohon kepada Dewa Wisnu agar keadaan berubah seperti
sediakala dan menghidupkan kembali yang gugur dalam perang. Dewa Wisnu akhirnya
mengembalikan keadaan semula semua yang mati dihidupkan kembali dan
bahkan mereka memiliki sikap welas asih menjadi lebih baik perselisihan pun terselesaikan
dengan baik.
Diakhir cerita semua hidup kembali serta
memiliki sikap welas asih dan mereka bersama-sama menghadiri pernikahan Sang
Prabu Kresna dengan Dewi Rukmini di Puri Dwarawati.
Rindun_Duduls

0 komentar:
Posting Komentar